Friday, November 6, 2015

Evaluasi data pengamatan G. Dukono, Halmahera Utara hingga 3 November 2015





Hasil evaluasi data pengamatan visual dan instrumental G. Dukono, Halmahera Utara periode 1 Agustus 2015 hingga 3 Nopember 2015 sebagai berikut: 
I. Pendahuluan
    1. Gunungapi Dukono merupakan salah satu gunungapi aktif yang berada di Maluku Utara. Secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Propinsi Maluku Utara, sedangkan secara geografi puncaknya terletak pada 127º 52' BT dan 1º 42' LU dengan ketinggian 1087 m dpl.
    2. Di kompleks G. Dukono terdapat beberapa kawah di antaranya adalah Tanah Lapang, Dilekene, Malupang Magiwe, Telori, dan Heneowara yang kini sudah tidak aktif lagi, serta Kawah Malupang Warirang di puncak G. Karirang yang sejak letusan tahun 1933 sampai saat ini merupakan kawah paling aktif dan berperan sebagai pusat aktivitas vulkanik G. Dukono. Karakter letusannya bersifat magmatik eksplosif dan magmatik efusif.
    3. Kegiatan G. Dukono berupa letusan abu yang sudah berlangsung sejak tahun 2003. Letusan terjadi dari Kawah Malupang Warirang. Tingkat aktivitas G. Dukono adalah Waspada (level II) sejak 13 Juni 2008 pukul 19.00 WIT.
    4. Pemantauan secara visual aktivitas vulkanik G. Dukono dilakukan dari Pos PGA Dukono di Mamuya,  Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara.

    II. Hasil Pengamatan
      2.1 Visual 
      1. Selama Agustus 2015 teramati asap hembusan berwarna putih kelabu tebal dengan ketinggian 200 - 1000 m dari atas bibir kawah disertai suara gemuruh lemah-sedang. Abu vulkanik jatuh di sektor utara-baratlaut di sekitar wilayah Kecamatan Galela hingga Kota Tobelo.
      2. Selama September 2015 teramati kolom asap berwarna putih kelabu sedang-tebal dengan tinggi 100-1000 m dari atas bibir kawah condong ke arah timur dan baratdaya disertai suara gemuruh lemah - sedang. Abu vulkanik jatuh di sekitar Pos Pengamatan Gunungapi Dukono. Hujan dengan intensitas sedang terjadi sekali pada tanggal 12 September.
      3. Selama Oktober 2015 teramati kolom asap berwarna putih tebal dengan tinggi 150 - 950 m dari atas bibir kawah condong ke arah barat dan baratlaut, yang sesekali disertai suara gemuruh lemah – sedang yang terdengar hingga di pos.
      4. Hingga tanggal 3 Nopember 2015, teramati asap kawah putih kelabu sedang dengan tinggi 500 - 950 m dari atas bibir kawah condong ke arah barat dan disertai suara gemuruh lemah. 
      Grafik tinggi kolom letusan selengkapnya selama kurun waktu 1 Januari 2015 hingga  3 Nopember 2015 dapat dilihat pada lampiran 1.

      2.2 Instrumental
      1.   Kegempaan harian :
      1. Selama Agustus 2015, terekam: 59 kali Gempa Letusan, 12 kali gempa Tektonik Jauh, 1 kali gempa Tektonik Lokal dan Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5 - 34 mm. Gempa terasa terjadi 2 kali pada tanggal 20 dan 21 Agustus 2015 dengan intensitas II-III MMI. Gempa letusan kembali menerus terjadi sejak 18 – 25 Agustus 2015.
      2. Selama September 2015, terekam: 60 kali Gempa Letusan, 38 kali gempa Tektonik Jauh, 5 kali Gempa Tektonik Lokal, 1 kali gempa Teleseismik (pada tanggal 17 September) dan Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5 - 29 mm. Gempa letusan terjadi secara menerus pada tanggal 21 – 30 September.
      3. Selama Oktober 2015, terekam: 81 kali Gempa Letusan, 60 kali gempa Tektonik Jauh, 13 kali Gempa Tektonik Lokal, 8 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal, dan Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5 - 24 mm. Gempa terasa terjadi 2 kali pada tanggal 14 dan 17 Oktober 2015 dengan intensitas I-II MMI.
      4. Tanggal 1 - 3 Nopember 2015, terekam: 4 kali Gempa Letusan, 1 kali Gempa tektonik Lokal, 5 kali gempa Tektonik Jauh, 5 kali Gempa Vulkanik Dalam, 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal, dan Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5 - 6 mm. 
      Grafik jenis dan jumlah gempa harian selengkapnya selama kurun waktu 1 Januari 2015 hingga 3 Nopember  2015 dapat dilihat pada lampiran 1, sedangkan grafik amplitudo seismik (RSAM) G. Dukono periode 1 Agustus 2015 hingga 3 Nopember  2015 pukul 06.00 WIT dapat dilihat pada lampiran 2.

      III. Evaluasi
      1. G. Dukono adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang mengalami letusan secara menerus sejak 13 Agustus 1933 hingga kini. Kejadian letusan menerus seperti ini bukanlah hal yang baru. Beberapa gunungapi di dunia mengalami hal yang serupa seperti di G. Pacaya dan G. Santa Maria di Guatemala, G. Arenal di Costa Rica, G. Sangay di Ekuador, G. Manam, G. Langila dan G. Bagana di Papua New Guinea maupun G. Ibu di Halmahera Barat, Indonesia.
      2. Tingkat kegempaan G. Dukono secara umum masih tinggi, ditandai dengan masih terekamnya gempa letusan, gempa vulkanik dan Tremor menerus. Jumlah Gempa Letusan meningkat pada bulan Oktober 2015, meskipun masih cenderung fluktuatif. Namun demikian, peningkatan aktivitas ini masih lebih rendah dibandingkan pada aktivitas bulan Februari - Maret 2015. Hal ini ditunjukkan oleh penurunan tinggi kolom abu letusan dan amplituda maksimum tremor menerus. Perlu diwaspadai adanya peningkatan kejadian Gempa Tektonik Lokal yang dimungkinkan dapat mengganggu kondisi internal di dalam tubuh gunungapi.
      3. Grafik amplitudo seismik (lampiran 2) menunjukkan pola kenaikkan pada 15 - 22 Agustus 2015, 28 Agustus 2015 – 5 September 2015, dan  15 - 25 Oktober 2015. Kenaikkan ini berkaitan dengan kejadian Tremor menerus dan kenaikkan jumlah gempa Letusan. Kekosongan data pada grafik diakibatkan oleh tidak berfungsinya alat (carrier off) akibat solar panel pemasok daya tertutup oleh lapisan abu vulkanik hasil letusan G. Dukono
      4. Terekamnya kembali kejadian Gempa Vulkanik Dalam (VA) pada Oktober 2015 menandakan peretakkan batuan (brittle failure) akibat suplai atau tekanan baru dari magma berlangsung disertai dengan kenaikan fluida (gas/batuan). Hal ini diikuti dengan kembali terjadinya rangkaian gempa letusan yang meningkat selama Oktober 2015 hingga akhir periode.

        IV. Potensi Bahaya 
        1. Sejak tahun 2003, letusan menerus terjadi dari Kawah Malupang Warirang. Produk letusan adalah jatuhan material vulkanik berukuran abu hingga pasir. Abu tersebar di sekitar kawah, dan jika intensitas letusan besar dan arah angin ke timur, abu vulkanik jatuh hingga di Kota Tobelo, Ibu Kota kabupaten Halmahera Utara yang berjarak lk. 15 km dari puncak/Kawah G. Dukono.
        2. Potensi bahaya letusan G. Dukono berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Dukono (lampiran 3), dibagi ke dalam tiga tingkatan yaitu : 
        • Kawasan Rawan Bencana-III (KRB-III), adalah kawasan sumber erupsi, daerah puncak dan sekitarnya yang sangat berpotensi terlanda oleh berbagai macam hasil erupsi dalam bentuk aliran piroklastika, aliran lava, gas vulkanik beracun, jatuhan piroklastik dan lontaran fragmen batuan (pijar). Kawasan ini berada pada radius sekitar 1,5 km dari pusat erupsi.
        • Kawasan Rawan Bencana-II (KRB-II), adalah kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, lahar, lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat. Kawasan ini mencakup daerah dengan radius sekitar 5 km dari pusat erupsi.
        • Kawasan Rawan Bencana-I (KRB-I), adalah kawasan yang berpotensi terlanda lahar/banjir dan kemungkinan dapat terkena perluasan lahar/awan panas serta jatuhan piroklastik. Kawasan ini  terletak di sepanjang daerah aliran sungai/di dekat lembah sungai atau di bagian hilir sungai yang berhulu di daerah puncak, sedangkan kawasan yang berpotensi terlanda  oleh jatuhan abu dan fragmen batuan  < 2 cm dalam radius 8 km dari pusat erupsi.
             3.  Arah hujan abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh arah angin. Ancaman bahaya saat ini berupa hujan abu di desa-desa yang berada di sektor utara dan baratlaut dari puncak G. Dukono.

        V. Kesimpulan
        • Berdasarkan pengamatan visual, instrumental dan potensi bahaya letusan G. Dukono hingga tanggal 3 Nopember  2015, maka tingkat aktivitas G. Dukono masih pada tingkat WASPADA (Level II).
        • Jika terjadi perubahan aktivitas vulkanik G. Dukono secara signifikan, maka tingkat aktivitasnya dapat dinaikkan/diturunkan sesuai dengan aktivitas vulkanik dan tingkat ancamannya.
        • Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi kegiatan G. Dukono serta pemahaman terhadap aktivitas G. Dukono tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang informasi terkini aktivitas G. Dukono beserta potensi ancaman bahaya letusannya.

          VI. Rekomendasi 
          1. Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki dan mendekati kawah yang ada di puncak  G. Dukono di dalam radius 2 km.
          2. Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah angin sehingga tidak dapat dipastikan arahnya, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.
          3. Masyarakat di sekitar G. Dukono diharap tenang, tidak terpancing isu-isu tentang letusan G. Dukono, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan senantiasa mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah/Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi dan Kabupaten.
          4. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Maluku Utara dan Kabupaten Halmahera Utara tentang aktivitas G. Dukono.
          5. Pemerintah Daerah agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Dukono di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Propinsi Maluku Utara atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.


          LAMPIRAN 1:
          Grafik tinggi kolom letusan dan jumlah gempa G. Dukono
          1 Januari 2015 - 3 Nopember  2015
          dukono 1 (06-11-15)

          LAMPIRAN 2:
           Grafik amplituda seismik G. Dukono periode
          1 Agustus 2015 - 4 Nopember 2015 pukul 06.00 WIT
          dukono 2 (06-11-15)

          LAMPIRAN 3:
          PETA KAWASAN RAWAN BENCANA G. DUKONO
          dukono 3 (06-11-15)