Tuesday, January 19, 2016

Penurunan Tingkat Aktivitas G. Rinjani Dari Level II (waspada) Menjadi Level I (normal)

20 January 2016

Evaluasi data pengamatan visual dan instrumental G. Rinjani, Nusa Tenggara Barat hingga 19 Januari 2016, sebagai berikut:

I. Pendahuluan

  1. Secara geografis, G. Rinjani terletak pada posisi koordinat 8o25' LS dan 116o28' BT. Puncak G. Rinjani berada pada ketinggian 3726 m di atas permukaan laut.
  2. Secara administratif G. Rinjani termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
  3. Gunungapi Rinjani diamati secara visual dan instrumental dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) yang berlokasi di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
  4. Data pengamatan G. Rinjani diolah dan dianalisis oleh ahli gunungapi di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk mengevaluasi tingkat aktivitas gunungapi serta mengestimasi potensi ancaman bahayanya sehingga menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi.
  5. Sejarah perkembangan tingkat aktivitas gunungapi:
    1. Pada 2 Mei 2009 pukul 16:30 WITA, tingkat aktivitas G. Rinjani dinaikan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Hal ini didasari oleh peningkatan aktivitas berupa erupsi abu
    2. Pada 19 November 2010 pukul 17:00 WITA tingkat aktivitas G. Rinjani diturunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal). Hal ini didasari oleh penurunan aktivitas kegempaan dan aktivitas permukaan yang teramati secara visual.
    3. Pada tanggal 25 Oktober 2015 pukul 13:00 WITA tingkat aktivitas G. Rinjani dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Hal ini didasari oleh peningkatan aktivitas berupa erupsi abu.

 

II. Hasil Pengamatan 

2.1 Visual

  1. Pada rentang waktu 25 Oktober - 24 November 2015: secara umum cuaca cerah - mendung, angin bertiup perlahan dari arah timur, suhu udara 20 - 32 °C. Gunungapi tampak jelas - tertutup kabut, saat gunungapi jelas teramati asap letusan berwarna putih - kelabu, tipis - tebal dengan tinggi 300 - 2600 m di atas kawah G. Barujari. Dari CCTV juga teramati lontaran material pijar setinggi 30 - 150 m di atas kawah G. Barujari.
  2. Pada rentang waktu 25 November - 24 Desember 2015: secara umum cuaca cerah - hujan gerimis - deras, angin bertiup perlahan dari arah timur atau utara, suhu udara 15 - 34 °C. Gunungapi tampak jelas - tertutup kabut, saat gunungapi jelas teramati asap letusan berwarna putih - kelabu, tipis - tebal dengan tinggi 50 - 2500 m di atas kawah G. Barujari.
  3. Pada rentang waktu 25 Desember 2015 - 18 Januari 2016: secara umum cuaca cerah - hujan gerimis - deras, angin bertiup perlahan dari arah timur atau barat, suhu udara 14 - 28 °C. Gunungapi tampak jelas - tertutup kabut, saat gunungapi jelas teramati asap kawah berwarna putih tipis dengan tinggi 50 m di atas kawah G. Barujari.

(terlampir di Gambar 1)

 

2.2 Instrumental

  1. Pada rentang waktu 25 Oktober - 24 November 2015: Terekam Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 1 - 50 mm. 1 kali Tremor Harmonik dengan amplitudo maksimum 12 mm dan lama gempa 3180 detik. 40 kali Gempa Letusan. 3 kali Gempa Hembusan. 7 kali Gempa Low Frequency (LF). 44 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). 67 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA). 6 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 29 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  2. Pada rentang waktu 25 November - 24 Desember 2015: Terekam 110 kali Tremor dengan amplitudo maksimum 1 - 17 mm dan lama gempa 7,5 - 1160 detik. 3 kali Tremor Harmonik dengan amplitudo maksimum 2 - 4 mm dan lama gempa 30 - 65 detik. 32 kali Gempa Letusan. 4 kali Gempa Hembusan. 40 kali Gempa Low Frequency (LF). 19 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB). 57 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA). 5 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 66 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
  3. Pada rentang waktu 25 Desember 2015 - 18 Januari 2016: Terekam 32 kali Tremor dengan amplitudo maksimum 2 - 10 mm dan lama gempa 7 - 90 detik. 23 kali Gempa Low Frequency (LF). 10 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA). 4 kali Gempa Tektonik Lokal (TL) dan 35 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).

(terlampir di Gambar 2)

 

III. Evaluasi

  1. Tingkat kegempaan G. Rinjani sudah menurun kembali ke kondisi normalnya (Gambar 3).
  2. Secara visual, aktivitas permukaan G. Rinjani sudah menurun yang ditandai oleh tidak teramatinya aktivitas letusan maupun aliran lava dari kerucut G. Barujari. Sementara pemantauan dengan penginderaan jauh juga sudah tidak mendeteksi adanya titik api (hotspot) di tubuh G. Barujari (Gambar 4).

 

IV.Potensi Bencana

  1. Sejarah aktivitas erupsi G. Rinjani dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan di G. Barujari yang terletak di dalam Kaldera G. Rinjani.
  2. Dalam sejarah aktivitasnya, erupsi G. Rinjani mengindikasikan potensi ancaman bahaya berupa jatuhan piroklastik, hujan abu dan aliran lava. Daerah yang berpotensi terancam jatuhan piroklastik dan abu terletak di dalam kaldera, jatuhan abu juga dapat tersebar di sekeliling G. Rinjani tergantung pada arah angin.
  3. Ancaman bahaya secara tidak langsung berada di daerah utara G. Rinjani terutama di daerah aliran sungai Kokok Putih yang berhulu di area bukaan kawah. Erupsi di dalam kaldera dapat menyebabkan peningkatan muka air Danau Segara Anak yang selanjutnya berpotensi menyebabkan banjir bandang di Sungai (Kokok) Putih.

(terlampir di Gambar 5: Peta Kawasan Rawan Bencana G. Rinjani)

 

V. Kesimpulan

  1. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka mulai tanggal 19 Januari 2015 pukul 17:00 WITA tingkat aktivitas G. Rinjani diturunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal).
  2. Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi tingkat aktivitas G. Rinjani.

 

VI. Rekomendasi

  1. Masyarakat di sekitar G. Rinjani dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan beraktivitas/berkemah di tubuh G. Barujari.
  2. Masyarakat di sekitar G. Rinjani diharap tenang dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Rinjani yang tidak jelas sumbernya.
  3. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat dan BPBD Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Rinjani.
  4.  Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Utara agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Rinjani yang terletak di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

 

Visual Kaldera Rinjani dan G. Barujari

rinjani-1

Grafik Kegempaan G. Rinjani Tanggal 1 Januari 2015 - 18 Januari 2016

rinjani-2

rinjani-3

Grafik RSAM G. Rinjani Tanggal 1 Oktober 2015 - 19 Januari 2016

rinjani-4

 

Citra Hotspot dari MODIS Tanggal 25 Oktober 2015 - 18 Januari 2016

rinjani-5

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Rinjani


krb rinjani-6