Tuesday, February 2, 2016

Penurunan Status Gunung Egon

02 February 2016

Hasil evaluasi tingkat aktivitas Gunungapi Egon (G. Egon) di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebagai berikut:

I. PENDAHULUAN

  • Secara administratif G. Egon terletak di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Secara geografis, puncak G. Egon berada pada 8°40' Lintang Selatan dan 122°27' Bujur Timur dengan tinggi 1703 meter di atas permukaan laut.
  • Pemantauan secara visual dan instrumental aktivitas vulkanik G. Egon dilakukan dari Pos Pengamatan Gunungapi (Pos PGA) Egon yang berlokasi di Desa Nangatobong, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka (08o 36' 50,36" LS; 122o 26' 30,40" BT, pada ketinggian 75 m di atas permukaan laut).
  • Dalam catatan sejarah, dilaporkan bahwa pada periode 1888-1891 dan pada 1892 teramati adanya asap di puncak. Kemudian peningkatan aktivitas vulkanik juga tercatat 2 (dua) kali terjadi yaitu pada 28 September 1907 dimana terjadi letusan di kawah pusat dan pada tahun 1925 dimana terjadi semburan solfatara di kawah puncak bagian barat. Setelah 79 tahun tidak dilaporkan adanya peningkatan aktivitas, G. Egon kembali meletus mulai pada 28 Januari 2004 dengan ketinggian abu mencapai lk. 750m di atas puncak. Letusan ini berlanjut pada Juli 2004 dan Agustus - September 2004. Letusan berikutnya terjadi pada 6 – 13 Februari 2005. Material letusan bulan Juli dan September 2004 didominasi oleh abu sedangkan materi letusan Februari 2005 didominasi oleh lontaran lava pijar berukuran lapilli dengan ketinggian lk. 50 m di atas puncak. Kemudian pada 15 April 2008 kembali terjadi letusan dengan indeks eksplosivitas (VEI) 2 dan ketinggian kolom letusan mencapai lk. 5700 m di atas puncak. Pada 20, 24, dan 28 April 2008 kembali terjadi letusan-letusan dengan eksplosivitas lebih kecil dengan ketinggian masing-masing 3700, 2600, dan 1800 m yang disertai suara gemuruh sedang.
  • Tingkat aktivitas G. Egon diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada 12 Mei 2008 dan selanjutnya diturunkan menjadi Level I (Normal) pada 16 Juli 2009. Pada 15 Desember 2015 pukul 21:00 WITA tingkat aktivitas G. Egon dinaikkan menjadi Level II (Waspada).
  • Selama 1 – 12 Januari 2016, kegempaan G. Egon semakin meningkat dan kemunculan gempa-gempa vulkanik semakin beragam yang mengindikasikan peningkatan intensitas pergerakan magma ke permukaan, sehingga Tingkat Aktivitas G. Egon dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 13 Januari 2016.

 

II. HASIL PEMANTAUAN

 1. Visual

Hasil pemantauan visual pada periode 6 Januari hingga 1 Februari 2016 pukul 06:00 WITA adalah sebagai berikut:

  • Tanggal 6 – 12 Januari 2016, cuaca cerah, sesekali hujan gerimis hingga deras, angin tenang. Gunungapi sering tertutup kabut, saat jelas teramati asap kawah berwarna putih tipis dengan tinggi asap 25 meter dari puncak G. Egon. Gunungapi tidak teramati pada malam hari.
  • Tanggal 13 – 19 Januari 2016, cuaca cerah, sesekali hujan gerimis hingga deras (curah hujan 0,4 – 34,6 mm), angin tenang. Gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut, saat jelas teramati asap kawah nihil hingga berwarna putih tipis dengan tinggi asap 15 – 50 meter dari puncak G. Egon. Gunungapi tidak teramati pada malam hari.
  • Tanggal 20 – 26 Januari 2016, cuaca cerah – hujan gerimis hingga deras (curah hujan 0,9 – 54 mm), angin tenang. Gunungapi sering tertutup kabut, saat jelas teramati asap kawah nihil hingga berwarna putih tipis dengan tinggi asap 25 – 50 meter dari puncak G. Egon. Gunungapi tidak teramati pada malam hari.
  • Tanggal 27 – 31 Januari 2016, cuaca cerah – hujan gerimis hingga deras (curah hujan 0,4 – 76,9 mm), angin tenang. Gunungapi tertutup kabut dan tidak teramati pada malam hari.
  • Tanggal 1 Febuari 2016 hingga pukul 06.00 WITA, cuaca cerah – hujan dengan intensitas deras (curah hujan 7,2 mm), angin sedang dari arah baratlaut. Gunungapi tertutup kabut.

Hasil pemantauan geokimia di lapangan berupa pengukuran gas di lokasi Hutan Andalan, Sungai Wai Raat dan Sungai Wai Hawer serta pengukuran tingkat keasaman air di kedua sungai pada periode 16 – 30 Januari 2016 menunjukkan kecenderungan penurunan aktivitas magmatik. Hasil tersebut ditunjukkan di antaranya pada pengukuran gas pada tanggal 30 Januari 2016 dimana gas H2S, CO2 dan SO2 tidak terdeteksi pada wilayah – wilayah yang disebutkan di atas serta pH air sungai yang menunjukkan nilai 5,7 – 6,5 (relatif netral). Secara lengkap hasil pemantauan geokimia dapat dilihat pada Lampiran 1.

 

2. Kegempaan

Pengamatan kegempaan dilakukan di Pos Pengamatan G. Egon dengan menggunakan Seismograf PS-2 dengan Seismometer L-4C (satu komponen) yang dipasang di lereng utara berlokasi di Hobilogot berjarak sekitar 4 km dari puncak G. Egon. Sejak 27 Desember 2015 dipasang satu stasiun seismik di Hobilogot Atas yaitu di lereng barat yang berjarak sekitar 4 km dari puncak G. Egon dan sejak tanggal 17 Januari 2016 dipasang dua stasiun seismik di Hebing dan Wairpuad, di lereng tenggara yang berjarak sekitar 4 km dari puncak G. Egon. Hasil pengamatan kegempaan G. Egon pada periode 6 Januari hingga 1 Febuari 2016 pukul 06:00 WITA adalah sebagai berikut:

  • Tanggal 6 – 12 Januari 2016: terekam 38 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ), 14 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), 1 kali Gempa Terasa dengan Skala MMI III, 74 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 20 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 4 kali Gempa Tornillo, 1 kali Gempa Frekuensi Rendah (LF), 23 kali Getaran Tremor Harmonik dengan amplitudo maksimum 0,5 – 11 mm, 70 kali Gempa Hembusan, 13 kali Getaran Tremor dengan amplitudo maksimum 3-21 mm, dan terjadi fenomena swarm gempa sebanyak 3 kali.
  • Tanggal 13 – 19 Januari 2016: terekam 35 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ), 9 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), 115 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 26 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 3 kali Gempa Tornillo, 8 kali Gempa Frekuensi Rendah (LF), 76 kali Gempa Hembusan, 34 kali Getaran Tremor dengan amplitudo maksimum 3-21 mm, dan terjadi fenomena swarm gempa sebanyak 9 kali.
  • Tanggal 20 – 26 Januari 2016: terekam 28 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ), 3 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), 26 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 5 kali Gempa Frekuensi Rendah (LF), 30 kali Gempa Hembusan, dan 8 kali Getaran Tremor dengan amplitudo maksimum 5-28 mm.
  • Tanggal 27 – 31 Januari 2016: terekam 20 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ), 4 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), 9 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 8 kali Gempa Frekuensi Rendah (LF), dan 14 kali Gempa Hembusan.
  • Tanggal 1 Februari 2016 hingga pukul 06.00: tidak terekam adanya kejadian gempa (nihil).

 

Grafik jumlah gempa selengkapnya selama periode 13 Januari hingga 1 Februari 2016 pkl. 06.00 WITA dapat dilihat pada Lampiran 2.

 

3. Deformasi

Pengamatan deformasi dilakukan dengan menerapkan metode pengukuran jarak di antara dua titik tetap (EDM) dan ungkitan (tiltmeter). Pengukuran EDM dilakukan terhadap 2 (dua) reflector yang dipasang pada lereng baratlaut G. Egon. Pengukuran dilakukan pada pagi dan sore hari, tetapi karena terkendala oleh cuaca maka pengukuran tidak dapat selalu dilakukan setiap hari. Satu stasiun tiltmeter dipasang secara kontinyu di lereng baratdaya, bersamaan dengan stasiun seismik Hobilogot. Data tiltmeter ditransmisikan secara menerus ke Pos PGA Egon.

Grafik pengukuran Tiltmeter pada periode 21 Januari – 1 Februari 2016 pukul 06.00 WITA menunjukkan pola yang relatif stabil, fluktuasi yang terjadi pada grafik (Lampiran 7) didominasi oleh variasi harian suhu yang terekam oleh alat. Grafik pengukuran EDM periode 18 Januari 2016 hingga 1 Februari 2016 pukul 06.00 WITA (pengukuran pagi) menunjukkan fluktuasi, tetapi jika ditarik garis lurus dari awal hingga akhir pengukuran menunjukkan pola pemanjangan atau deflasi (Lampiran 8). Pengukuran EDM pada sore hari menunjukkan pemanjangan antara hasil pengukuran tanggal 27 dibandingkan terhadap pengukuran tanggal 29 Januari 2016. Dari hasil pengukuran deformasi dengan kedua metode ini ditafsirkan bahwa saat ini belum ada gejala penggembungan tubuh gunung api (ground deformation) yang signifikan yang diakibatkan oleh kenaikan tekanan/perubahan volume pada reservoir magma. Hasil pengukuran EDM dan Tiltmeter selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7 dan 8.

 

III. POTENSI BAHAYA

Secara umum, tipe letusan G. Egon adalah freatik. Letusan tipe ini dapat terjadi secara tiba – tiba jika terjadi interaksi antara uap (steam) magma dengan air di bawah permukaan (hydrothermal) yang mengakibatkan perubahan fasa cair menjadi uap, menghasilkan perubahan volume (dekompresi) dan mendorong batuan penutup (plug) di dekat permukaan kawah. Gejala yang teramati saat ini identik dengan gejala peningkatan kegempaan sebelum letusan G. Egon 15 April 2008 yang berlangsung relatif singkat. Saat ini potensi bahaya yang mungkin terjadi adalah letusan freatik sebagai mana telah diuraikan di atas.

Merujuk kepada catatan sejarah letusan (jangka panjang) G. Egon, Potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh letusan G. Egon dibagi kedalam tiga tingkatan dari tinggi ke rendah sebagimana tertuang dalam peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) G. Egon, yaitu:

  • Dalam Kawasan Rawan Bencana III: sering terlanda awan panas dan kemungkinan aliran lava, serta dalam radius 1,5 km dari pusat kawah sering terlanda lontaran/guguran batu pijar.
  • Dalam Kawasan Rawan Bencana II: berpotensi terlanda awan panas dan aliran lahar, serta dalam radius 3 km dari pusat kawah berpotensi terlanda hujan abu lebat dan lontaran batu (pijar).
  • Dalam Kawasan Rawan Bencana I: berpotensi terlanda lahar/banjir serta dalam radius 5 km dari pusat kawah berpotensi terlanda hujan abu lebat dan lontaran batu (pijar) berukuran lebih kecil dari 6 cm.

Pembagian KRB G. Egon selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 9.

 

IV. EVALUASI
  • Pasca kenaikkan tingkat aktivitas pada 13 Januari 2016, pengamatan visual ke arah puncak/kawah G. Egon tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan dalam hal warna dan ketinggian asap hembusan.
  • Kegempaan pada minggu pertama pasca status Level III (Siaga) menunjukkan jumlah yang tinggi dengan jenis gempa yang relatif lebih bervariasi. Jenis gempa didominasi oleh Gempa Vulkanik Dalam (VA) yang mengindikasikan mekanisme peretakkan batuan di dalam tubuh gunungapi yang dapat merupakan implikasi dari tekanan fluida magmatik dari kedalaman menuju ke permukaan.
  • Jumlah dan jenis gempa memasuki minggu ketiga hingga 1 Februari 2016 pukul 06.00 WITA menunjukkan penurunan. Pada periode ini, aktivitas vulkanik didominasi oleh aktivitas permukaan ditandai dengan jumlah Gempa Hembusan yang masih relatif tinggi.
  • Grafik amplitudo seismik (RSAM) periode 1 Desember 2015 hingga 1 Februari 2016 pkl. 06.00 WITA (Lampiran 3) menunjukkan fluktuasi dan pola menurun pada akhir periode. Kenaikan pada 26,27 dan 30 Januari 2016 berkaitan dengan kejadian banjir yang terekam di seismogram.
  • Analisis frekuensi dan distribusi kegempaan G. Egon 1 Desember 2015 hingga 1 Februari 2016 pkl. 06.00 WITA (Lampiran 4) menunjukkan dominasi Gempa VA (awal periode) serta Gempa Hembusan (akhir periode), sedangkan grafik probabilitas kejadian erupsi menunjukkan nilai menurun, berkaitan dengan menurunnya jumlah gempa-gempa vulkanik.
  • Grafik frekuensi dominan gempa (Lampiran 5) menunjukkan bahwa pada akhir periode gempa-gempa mempunyai frekuensi relatif tinggi, diduga berkaitan dengan dominasi Gempa Hembusan. Kejadian ini juga dapat dilihat pada grafik interval waktu antara gempa serta S-P yang relatif mengecil (Lampiran 6), mengindikasikan kedalaman sumber gempa yang relatif dangkal. Grafik jumlah dan energi kumulatif gempa menunjukkan laju yang rendah, pasca kenaikan yang signifikan pada 12 – 13 Januari 2016. Hal ini berkaitan dengan penurunan jumlah gempa vulkanik. Grafik interval waktu antar gempa menunjukkan rentang yang membesar berkaitan dengan semakin jarangnya jumlah kejadian gempa.

 

V. KESIMPULAN
  • Hasil pemantauan secara menerus menunjukkan adanya kecenderungan penurunan jumlah dan jenis gempa maupun kadar gas-gas vulkanik serta belum adanya gejala penggembungan tubuh gunung api yang signifikan. Meskipun demikian, kemungkinan terjadinya letusan G. Egon masih ada meskipun tidak dapat dipastikan. Oleh karena itu, upaya antisipatif dan upaya mitigasi bencana perlu terus dilakukan.
  • Berdasarkan hasil analisis data visual, instrumental, dan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 1 Febuari 2016 pukul 12:00 WITA status G. Egon diturunkan dari Level III (SIAGA) menjadi Level II (WASPADA).

Pemantauan secara intensif tetap dilakukan guna mengevaluasi kegiatan G. Egon dan dikoordinasikan dengan Pemerintah Daerah (BPBD Daerah) setempat.

Jika terjadi perubahan penurunan/peningkatan aktivitas vulkanik G. Egon secara signifikan, maka tingkat aktivitasnya dapat diturunkan/dinaikkan sesuai dengan tingkat ancamannya.

 

VI. REKOMENDASI

Sehubungan dengan G. Egon dalam Tingkat Aktivitas Level II (WASPADA), maka direkomendasikan:

  1. Masyarakat dan wisatawan agar tidak mendekati kawah dan tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Egon untuk menghindari potensi bahaya gas beracun maupun letusan yang dapat terjadi secara tiba – tiba.
  2. Masyarakat yang beraktivitas di sekitar lembah-lembah sungai yang berhulu dari puncak/kawah G. Egon untuk senantiasa waspada akan potensi bahaya lahar, terutama pada saat musim hujan.
  3. Masyarakat yang bermukim/beraktivitas di luar radius 1,5 km dari puncak G. Egon dapat melakukan aktivitasnya seperti biasa dan untuk tetap tenang, namun tetap menjaga kesiapsiagaan, dan tidak tepancing isu-isu letusan G. Egon yang tidak jelas sumbernya.
  4. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi senantiasa berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Egon. Masyarakat harap selalu mengikuti arahan dari BPBD.
  5. Pemerintah Daerah agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Egon di Desa Nangatobong, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

 

 

LAMPIRAN 1

Grafik amplitudo spektra seismik G. Egon, Nusa Tenggara Timur

Periode 1 Desember 2015 - 1 Februari 2016 pkl. 06.00 WITA

Egon 3 (02-02-16)

 

LAMPIRAN 2

 Hasil pengukuran kadar gas dan keasaman air di sekitar G. Egon, Nusa Tenggara Timur

Egon 1 (02-02-16)

 

LAMPIRAN 3

Grafik Gempa Harian G. Egon, Nusa Tenggara Timur

Periode 1 Desember 2015 - 1 Febuari 2016 pukul 06.00 WITA

Egon 2 (02-02-16)

 

LAMPIRAN 4

Analisis frekuensi distribusi kegempaan G. Egon, Nusa Tenggara Timur

Periode 1 Desember 2015 - 1 Februari 2016 pkl. 06.00 WITA

Egon 4 (02-02-16)

 

LAMPIRAN 5

Grafik frekuensi dominan gempa G. Egon, Nusa Tenggara Timur

Periode 1 Desember 2015-1 Februari 2016 pkl. 06.00 WITA

Egon 5 (02-02-16)

 

LAMPIRAN 6

Grafik Analisis kegempaan G. Egon, Nusa Tenggara Timur

Periode 1 Desember 2015 - 1 Februari 2016 pkl. 06.00 WITA

Egon 6 (02-02-16)

 

LAMPIRAN 7

Grafik hasil pengukuran EDM G. Egon, Nusa Tenggara Timur

Periode 18 Januari - 1 Februari 2016 pkl. 06.00 WITA

Egon 7 (02-02-16)

Egon 8 (02-02-16)

 

LAMPIRAN 8

Grafik hasil pengukuran Tiltmeter G. Egon, Nusa Tenggara Timur

Periode 21 Januari - 1 Februari 2016 pkl. 06.00 WITA

Egon 9 (02-02-16)

 

LAMPIRAN 9

 Peta Kawasan Rawan Bencana G. Egon, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur

Egon 10 (02-02-16)